BALIKPAPAN – Mereka datang dari Sangatta, kota tambang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dengan suara yang tidak keras, tapi dalam. Dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) 2025 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), suara-suara itu akhirnya terdengar. Di antara gegap gempita 230 pelajar se-Kaltim yang berkumpul di Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan, para pelajar Kutim menunjukkan bahwa seni juga bisa tumbuh di tanah tambang.
Tak ada selebrasi berlebihan. Namun, keberhasilan mereka terasa menggugah. SMA Prima YPPSB Sangatta menyabet Juara 1 pada cabang Kreativitas Musik Tradisi, kategori yang menuntut kepekaan budaya dan kemampuan membingkai nilai lokal dalam format musikal modern. Dengan sentuhan kontemporer pada ritme etnik, Jordan Firohman dan timnya Danadipa Nityaka Putra, Arsya Anggieska Putri Az-Zahra, Nadya Novitasari, serta Xavyera Andalina, mengungguli para pesaing dari Tenggarong dan Samarinda, dua kota dengan tradisi seni lebih panjang.
Tak berhenti di situ. Di kategori Menyanyi Solo Putri, Agnelya Citra Vah Syalon dari SMA Negeri 2 Sangatta Utara mengejutkan dengan perolehan Juara 2, kalah tipis dari Qhesia Wimei Roas R (SMA Asisi Samarinda). Penampilannya yang kuat dan penuh emosi menjadi salah satu momen yang paling dikenang di panggung itu.
Di bidang literasi, Andi Zihan Al Zahira dari SMA Negeri 1 Sangatta Selatan membawa pulang Juara 3 Jurnalistik, membuktikan bahwa narasi dari daerah juga bisa tajam dan jernih. Ia menyusun tulisan yang menyoroti persoalan sosial dari sudut pandang remaja daerah, dan itu cukup menggugah para juri.
Pelaksanaan FLS3N 2025 ini mencatat sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya, ajang ini menggabungkan peserta dari jenjang SMA, MA, dan SMK dalam satu arena kompetisi. Tercatat 15 cabang dipertandingkan: mulai dari musik tradisi, puisi, kriya, komik digital, hingga film pendek.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin, seluruh juara pertama akan mewakili Kaltim ke tingkat nasional. Ia menegaskan bahwa penjurian dilakukan secara objektif dan transparan.
“Kami ingin anak-anak ini menjadi wajah seni dan budaya Kaltim di tingkat nasional,” ucapnya pada acara penutupan.
Dominasi dalam perolehan juara satu diraih Samarinda dengan 10 gelar. Kutim bersama Balikpapan, Bontang, dan PPU masing-masing mengantongi satu gelar juara pertama. Namun lebih dari sekadar medali, kemenangan dari Sangatta membawa pesan: seni tak lagi eksklusif bagi kota besar.
Subkoordinator Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Disdikbud Kaltim Siti Aminah, menyatakan bahwa meskipun Mahakam Ulu terkendala kehadiran akibat kemarau, pelaksanaan lomba berlangsung lancar.
“Kutim tampil konsisten dan layak diapresiasi,” tuturnya.
Di tengah keragaman etnis, geografis, dan latar belakang pendidikan, FLS3N 2025 menjadi cermin dari dinamika kreativitas generasi muda Kaltim. Dan Kutim, dengan suaranya yang jernih dan karyanya yang bernyawa, membuktikan bahwa dari pinggir pun bisa terdengar. (ADV)
